Penambangan emas di Tumpang Pitu Banyuwangi mulai menghadapi masa sulit dan akan beralih ke penambangan tembaga. Ini tidak lepas dari potensi kandungan tembaga di Tumpang Pitu yang bisa menjadi terbesar ke 3 Di Indonesia ( Foto : Hermawan )
SITUSJATIM - Seiring berjalannya waktu, masa depan pengelolan tambang emas Bukit Tujuh atau dikenal dengan sebutan Tumpang Pitu oleh Bumi Suksesindo ( BSI ) di Banyuwangi sudah tidak berkilau lagi. Proses penambangan secara open pit tidak lagi menemukan kandungan emas dengan kadar yang tinggi dan mulai sulit didapatkan.
Namun demikian, upaya penambangan tersebut tidak akan berhenti. Namun merubah sasaran pencarian dari emas menjadi tembaga. Konsep penambanganpun berubah dari open pit menjadi penambangan bawah tanah. Hal ini tidak lepas dari situasi area penambangan yang mulai menemukan kadar tembaga diarea penambangan emas.
Manajer Departemen Heap Leach Operation ( HLO ) PT Bumi Suksesindo, Hariadhi Anjar Kusuma, menjelaskan produksi emas di tambang di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, dari hari ke hari makin menipis. Secara ilmu geologi menurut Anjar, semakin dalam menambang emasnya sudah mulai berkurang, dan lebih banyak tembaganya.
" Secara geological perspektif atau ilmu geologi semakin dalam kita menambang sisi ekonimisnya tidak ada. Karena emasnya mulai berkurang dan tembaganya lebih banyak. Nanti kita tunggu kebijakan perusahaan BSI untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat menuju masa transisi dari emas ke tembaga " ujar alumi ITS tersebut.
Saat ini capaian hasil tambang emas di Bukit Tujuh hanya mencapai 121 ribu ounce. Jauh menurun jika dibandingkan dengan capaian 2022 sebanyak 125 ribu, Situasi ini membuat perusahaan yang dibawah naungan Merdeka Copper and Gold ini memikirkan langkah baru ke depan yaitu beralih dari emas ke tembaga.
``Tahun ini kami memproyeksi produksi emas turun menjadi 121 ribu ounce. Menurun jika dibanding tahun sebelumnya yang bisa mencapai 125 ribu ounce. Karena tambang dengan sistem open pit memang bakal makin susah semakin dalam lapisan tanah yang kami gali,`` ungkap Hariadhi.
Hariadhi Anjar Kusuma juga menjelasakan, meski saat ini BSI masih mempunyai 2 pit lagi yang belum dikelola. Namun langkah menuju masa transisi terus berjalan.
" Kenapa kita akan ada peralihan karena meski kita masih ada 2 pit namun secara rata rata kita prediksi hasilnya juga akan sama. Resikonya jika kita tetap emas maka pendalaman area makin besar dan akan berdampak pada lingkungan. Sementara produksi sedikit. Maka kita harus melalukan peralihan " lanjut Hariadhy Anjar.
Penambangan emas oleh BSI dimulai pada tahun 2012. Ditahun 2017 BSI mulai menemukan emas dengan great yang tinggi sekitar 3-4 gram emas dari pengolahan 1 ton ore. Namun saat ini rata-rata emas yang didapat dari 1 ton ore hanya mencapai 0,8 gram.
General Manager Operation ( GMO) BSI Rully Franza menyampaikan bahwa sebenarnya penambangan emas di Tumpang Pitu tutup di tahun 2022. Namun ada perubahan diperpanjang hingga tahun 2027.
" Diawal proses pengelolaan tambang kita sudah berencana tutup tahun 2022. Namun ada perkembangan di lapangan dan kita perpanjang hingga 2027.
Diakui oleh Rully Franza bahwa nilai ekonomis dari tambang emas mulai menurun. Namun temuan tembaga menjadi hal baru yang disyukuri oleh anak perusahaan Merdeka Cooper and Gold untuk merubah arah kebijakan penambangan dari emas menjadi tembaga. Saat ini infrastrutur juga sudah disiapkan.
" Kita syukuri bahwa ada hasl kajian atau FS yang bagus akan potensi tembaga.Umurnya pun juga panjang sekitar 25 tahun. Jadi nanti saya ke sini lagi sama cucu saya tambang ini masih ada " gurau Rully Franza.
Peralihan pengelolaah tambang juga terlihat dari penyiapan tambang bawah tanah. Saat ini ekplorasi bawah tanah sudah mencapai 1,8 km. Rully yang juga Kepala Teknik Tambang atau Wakil Pemerintah di perusahaan tambang swasta menuturkan ada harapan dari BSI atau Merdeka Cooper and Gold untuk menjadi founding father tambang tembaga di Banyuwangi.
" Ya kita berharap bisa menjadi founding father tambang tembaga di Banyuwangi " ujar nya singkat.
Meski akan terjadi peralihan. Rully Franza menggarisbawahi bahwa faktor lingkungan akan menjadi skala prioritasnya. Sisi enviromental ini sangat penting karena menjadi fokus dunia dalam pengelolaan tambang.
" Tentu lingkungan tetap kita jadikan skala prioritas. Bakan kita tidak bisa abai karena dimonitor langsung dari pusat. Terbaru jika sisi enviroment tidak bagus maka bank tidak akan memberikan pinjaman " pungkas Rully Franza.