Para pekerja tengah mengangkat paving block yang dibuat dari FABA, limbah hasil pembakaran batubara PLTU Paiton. Setiap harinya workshop pemanfaatan fly ash dan bottom ash PLTU Paiton mampu memproduksi sekitar 500 buah paving block terbuat dari campuran FABA. (Foto.Wahyoe Boediwardhana)
Jawa Timur – PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) akan menandatangani kesepakatan ikut membantu pembangunan 2.000 rumah hunian sementara (huntara) dan 2.000 rumah hunian tetap (huntap) korban erupsi Gunung Semeru Lumajang. Pembangunan huntara dan huntap ini akan memanfaatkan fly ash dan bottom ash (FABA), limbah abu sisa pembakaran batu bara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton.
Untuk rumah huntara, FABA akan dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembangunan lantai dasar rumah dan jalan-jalan penghubung di lingkungan sekitar rumah. Sementara untuk pembangunan rumah huntap, FABA akan digunakan sebagai campuran langsung pembangunan rumah, seperti bata interlock, paving block, hingga beton sloof.
“Draft surat kesepemahaman sudah selesai disusun dan tinggal ditandatangi. Ada PJB, PLN dan Pemkab Lumajang yang terlibat. Kami dari PJB akan menyediakan FABA yang diperlukan. FABA nanti akan dimanfaatkan pada bagian apa saja di rumah huntara maupun huntap, itu juga sudah jelas disebutkan. Ini momen sangat menggembirakan, dimana dulu limbah FABA yang dikategorikan bahan berbahaya dan beracun (B3), sekarang bisa dimanfaatkan dan berguna untuk khalayak luas," kata Wildan Doddy Nafiudin, Kepala Bidang Stakeholder Management PJB saat mengunjungi workshop pemanfaatan fly ash dan bottom ash Unit Pembangkitan Jawa Bali PLTU Paiton Baru di Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jumat.
Rumah huntara maupun huntap ini disiapkan untuk para korban bencana erupsi Gunung Semeru yang mencapai 10.565 orang mengungsi. FABA digunakan sebagai campuran material pasir dan semen untuk membangun rumah tinggal. Dengan dicampur FABA tersebut, diperkirakan akan memangkas cukup banyak biaya pembangunan huntara maupun huntap.
Saat ini terdapat dua unit kerja pembangkitan di komplek PLTU Paiton, masing-masing Unit Pembangkitan Paiton sebagai pengelola PLTU Unit 1 dan Unit 2, serta Unit Bisnis Jasa Operation & Maintenance (UBJOM) Paiton selaku pengelola PLTU Unit 9. Kompleks PLTU ini merupakan tulang punggung sistem kelistrikan Jawa-Bali di sisi Timur, dan memiliki total kapasitas produksi listrik sebesar 4.700 mega watt.
General Manager PJB UBJOM PLTU Paiton 9, Agus Prasetyo Utomo di tempat sama menjelaskan, setiap hari pembangkitan yang dikelola PJB menghasilkan FABA hingga 110 ribu ton per tahun, atau jika dirata-rata menghasilkan 350 ton FABA perhari.
“Dari kapasitas produksi FABA itu baru sekitar 30-35 persen yang berhasil dimanfaatkan untuk komersialisasi sektor industri, yaitu dimanfaatkan sebagai bahan baku industri semen. Sisanya yang 70 persen ya masih menumpuk di landfill. Ini yang sedang kami dorong agar pemanfaatannya berguna bagi masyarakat,” jelas Agus Prasetyo Utomo.
Sebelumnya tim ahli lingkungan PJB UBJOM PLTU Paiton berhasil mengujicobakan FABA ini sebagai bahan campuran bangunan, untuk membangun prototype hunian layak bertipe 40 di atas lahan seluas 100 meter persegi. Rumah yang cukup kokoh tersebut berlokasi di Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo dan diberi nama Rumah FABA Lestari.
Supervisor bidang lingkungan UBJOM PLTU Paiton, Abdul Azis saat mengunjungi lokasi prototype Rumah FABA Lestari menyebutkan, diperlukan FABA sebanyak 40 ton sebagai campuran pembuatan bata interlock dan paving, sebagai bahan utama pembangunan satu unit rumah contoh.
“Bahan dasar bata interlock, paving block, dan beton sloof, itu semua dari FABA. Jadi harapannya dengan adanya Rumah FABA Lestari ini bisa mengedukasi masyarakat, bahwa FABA ini benar-benar aman,” terang Abdul Azis.
Terkait korban erupsi Gunung Semeru, sebelumnya PJB juga memberikan pasokan FABA kepada masyarakat sebanyak 100 ton. FABA tersebut digunakan warga untuk membangun pengecoran jalan antar rumah di lokasi bencana di Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Jalan kampung yang dibangun menggunakan FABA sepanjang 150 meter dengan lebar jalan 2,5 meter.
“Beton cor untuk jalan itu memiliki kualitas kekerasan mencapai K250 dengan campuran FABA sebanyak 70 persen. Masyarakat menyelesaikan pekerjaan secara bergotong royong selama 2 minggu,” ujar Abdul Azis.
Selain di Jawa Timur, pembangunan infrastruktur dengan memanfaatkan FABA ini juga dilakukan di wilayah Bangka Belitung. Di sana FABA digunakan sebagai campuran pembangunan beton jembatan penghubung jalan.