Ilustrasi Taman Nasional Baluran.
Situsjatim - Taman Nasional Baluran di Situbondo sering dijuluki “Afrika van Java” karena hamparan savananya yang luas dan eksotis. Tapi di balik keindahan alam yang menenangkan itu, ternyata tersimpan mitos-mitos lama yang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar.
Masyarakat sekitar percaya bahwa kawanan kera di hutan ini bukan sekadar hewan liar. Mereka dianggap sebagai penjelmaan roh penjaga Baluran, yang ditugaskan melindungi kawasan dari orang-orang berniat jahat atau berperilaku sombong. Konon, kera-kera itu bisa “membaca” niat seseorang.
Kalau ada pengunjung yang tidak sopan, berbicara kasar, atau merusak alam, mereka akan mengalami gangguan aneh, seperti tersesat, kendaraan mogok tiba-tiba, atau bahkan diikuti kera sampai keluar kawasan.
Beberapa warga juga menceritakan legenda bahwa dahulu, Baluran dijaga oleh seorang pertapa sakti yang mencintai alam dan semua isinya.
Setelah sang pertapa meninggal, arwahnya berubah menjadi kawanan kera untuk terus menjaga keseimbangan hutan. Karena itu, masyarakat sekitar tidak berani mengganggu atau menyakiti kera di kawasan tersebut.
Menariknya, kalau kamu datang ke Baluran, kamu akan benar-benar melihat banyak sekali kera di sepanjang jalan masuk kawasan taman nasional. Mereka duduk santai di pinggir jalan atau bergelantungan di pohon, seolah mengamati siapa pun yang datang.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu terasa biasa saja. Tapi bagi mereka yang tahu ceritanya, itu seperti salam diam-diam dari para penjaga hutan.
Terlepas dari mitosnya, kehadiran kera di Baluran juga jadi simbol penting bahwa alam dan makhluk hidup di dalamnya bisa hidup berdampingan. Hutan bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang sakral yang harus dijaga dengan rasa hormat baik oleh manusia, maupun penjaga tak kasatmata. ( Manda Medita/MAG)