Upacara Kasada di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur
Situsjatim.com - Salah satu adat tradisi Jawa Timur yang diadakan setahun sekali sebagai upacara penting adalah Upacara Kasada atau Yadnya Kasada. Upacara ini merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo.
Upacara ini biasanya dilaksanakan pada bulan Kasada dalam kalender Jawa (sekitar bulan Juli atau Agustus dalam kalender Masehi), dan dianggap sebagai upacara penting untuk memohon keselamatan serta memberikan sesaji kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur.
Dalam upacara Kasada, masyarakat Tengger membawa persembahan berupa hasil bumi, ternak, dan berbagai barang lainnya ke kawah Gunung Bromo, yang kemudian dilemparkan ke dalam kawah sebagai bentuk persembahan. Ritual ini menggambarkan rasa syukur dan penghormatan kepada dewa-dewa serta nenek moyang.
Upacara Kasada juga mencerminkan kearifan lokal dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa Timur, khususnya Suku Tengger.
Upacara Kasada, atau Yadnya Kasada, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan legenda masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Legenda ini bercerita tentang Rara Anteng dan Joko Seger, dua tokoh yang dipercaya sebagai nenek moyang masyarakat Tengger.
Rara Anteng adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit, sedangkan Joko Seger adalah seorang pemuda yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Menurut cerita, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-15, Rara Anteng dan Joko Seger memutuskan untuk meninggalkan wilayah kerajaan dan menetap di kawasan pegunungan Bromo.
Pasangan ini kemudian memimpin komunitas kecil dan menjadi pemimpin spiritual masyarakat Tengger. Namun, meski sudah menikah selama bertahun-tahun, mereka tidak dikaruniai anak. Karena keinginannya yang besar untuk memiliki keturunan, mereka berdoa kepada dewa-dewa gunung dan memohon agar diberi anak.
Setelah sekian lama berdoa, akhirnya doa mereka dikabulkan oleh dewa Gunung Bromo. Dewa tersebut memberikan mereka keturunan dengan satu syarat: anak bungsu mereka harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai tanda terima kasih dan penghormatan.
Rara Anteng dan Joko Seger setuju dengan syarat tersebut, dan akhirnya mereka dikaruniai 25 orang anak. Namun, ketika tiba saatnya untuk mengorbankan anak bungsu mereka, Kesuma, Rara Anteng dan Joko Seger merasa sangat berat hati dan tidak rela melakukannya. Akibat ketidakpatuhan mereka, Gunung Bromo pun mengalami letusan dahsyat.
Saat letusan terjadi, Kesuma akhirnya terlempar ke kawah Gunung Bromo dan menghilang di dalamnya. Dari dalam kawah, terdengar suara yang mengingatkan masyarakat Tengger untuk tetap melaksanakan ritual pengorbanan kepada Gunung Bromo setiap tahun dalam bentuk sesaji sebagai bentuk penghormatan.
Sejak saat itulah, setiap tahun masyarakat Tengger melaksanakan Upacara Kasada. Dalam upacara ini, masyarakat membawa sesaji berupa hasil bumi, ternak, dan persembahan lainnya ke puncak Gunung Bromo, yang kemudian dilemparkan ke kawah sebagai tanda pengorbanan dan rasa syukur kepada dewa-dewa serta untuk menjaga keharmonisan alam.
Upacara ini tidak hanya menjadi sebuah ritual spiritual, tetapi juga menjadi simbol ketaatan masyarakat Tengger terhadap janji nenek moyang mereka kepada dewa-dewa. Kasada juga menjadi identitas kultural penting yang diwariskan dari generasi ke generasi, mempertahankan kepercayaan dan tradisi Suku Tengger hingga hari ini.
Upacara Kasada memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Tengger, karena mencerminkan pengorbanan, rasa syukur, dan hubungan yang harmonis dengan alam. Meskipun secara tradisi dipenuhi dengan kepercayaan animisme dan Hindu, Kasada juga mencerminkan sinkretisme antara agama Hindu-Buddha, Majapahit, dan kepercayaan lokal yang masih hidup dalam budaya masyarakat Jawa Timur.
Ritual ini terus dipertahankan dan menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun internasional yang ingin menyaksikan kekayaan budaya masyarakat Tengger.