Wowok Meirianto atau Pak wok saat bersama wisatawan usai gelaran Tari Gandrung Banyuwangi yang menjadi tradisi dalam penyambutan tamu di Warung Kemarang ( Foto : Istimewa )
SITUSJATIM - Menyusuri kampung adat di Banyuwangi seakan tidak akan pernah ada habisnya. Setiap jengkal tanah yang dipijak selalu menawarkan keindahan alam dan seni budaya yang mengagumkan. Cerminan suasana tersebut ada di Warung Kemarang yang berada di Desa Taman Suruh Kecamatan Glagah. Sekitar 5 km dari batas kota.
Eksotika seni dan kuliner serta keindahan alam pedesaan khaa Suku Osing akan sangat terasa saat langkah kaki memasuki Warung Kemarang. Tak heran jika Arif Yahya di bulan Juni 2018 yang saat itu menjabat Menteri Pariwisata tertarik untuk datang dan meresmikan Warung Kemarang.
Adalah Wowok Meirianto, akrab dipanggil Pak Wok yang mempunyai ide dan semangat besar untuk membangun pariwisata Banyuwangi. Pensiun dari perusahaan minyak dunia Chevron, Pak Wok pulang ke desanya dan mengembangan lahan seluas 1,5 hektare menjadi Warung Kemarang.
" Sejak dulu saya punya cita -cita untuk mengembangan wisata seni, budaya dan kuliner di sini. Kebetulan saya punya lahan sejak 20 tahun lalu. Saya suka musik, tari dan istri suka memasak. Maka sepakat kami buat Warung Kemarang " ujar Pak Wok.
Sejak dibuka sampai saat ini Warung Kemarang tak pernah sepi pengunjung. Apalagi ditempat tersebut juga tersedia penginapan yang sangat asri. Berhimpitan dengan sawah, gemericik air dan kebun durian. Selain juga sajian masakan tradisional.yang sangat enak khas Banyuwangi.
Tak hanya itu, seni tradisional juga tersaji dalam berbagai kegiatan termasuk penyambutan tamu di Warung Kemarang. Ini semua membuat Warung Kemarang selalu dicari dan dirindukan wisatawan.
" Memang kami berupaya menghadirkan eksotika alam Banyuwangi. Makanan, pedesaan dan seni asli yang selalu kami hadirkan untuk para pengunjung " papar pria ramah yang juga menjabat Wakil Ketua Masyarakat Adat Nusantara tersebut.
Dalam menjalankan usahanya Wowok Meirianto juga mengesampingkan profit berlebih. Baginya, menyalurkan hobi musik, tari dan kulner menjadi hal utama. Selain itu, dirinya juga berusaha menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar Warung Kemarang.
" Dalam merekrut karyawan saya berusaha masyarakat sekitar. Selain itu bagi yang bisa bermusik dan menari akan saya utamakan untuk bekerja di sini " lanjutnya.
Pak Wok menjelaskan kenapa yang bermusik dan penari menjadi pilihan. Ini tidak lepas dari konsep Warung Kemarang yang sering mendapatkan permintaan pengunjung untuk menyajikan tari tradisional.
"Kita sering mendapatkan permintaan pengunjung untuk menyajikan seni. Tentu dengan karyawan yang bisa biaya bisa kita optimalkan untuk mereka. Sehingga selain bekerja mereka juga tetap bisa berkesenian " lanjut Pak Wok.
Sajian seni tari dan musik di Warung Kemarang tergolong murah. Untuk sebuah pagelaran tari dan sendratari yang di hotel atau tempat lain bisa berbandrol hingga 5 juta, di Warung Kemarang hanya dibandrol 1,5 hinggq 2 juta.
" Ini karena kita sudah alokasikan anggaran untuk berbagai property sejak awal Warung Kemarang berdiri. Sehingga biaya bisa kita tekan. Dan semua pendapatan untuk penari dan pemusik. Saya hanya ambil 10 persen " pungkas Pak Wok.