• Jawa Timur

Pariwisata Surabaya, Jalan Pulang Menuju Akar Budaya

Pamudji Slamet | Senin, 12/02/2024 18:03 WIB
Pariwisata Surabaya, Jalan Pulang Menuju Akar Budaya Alun-Alun Bawah Tanah Surabaya

SITUSJATIM - Bagi sebagaian orang, berwisata ke Surabaya mungkin sekadar bersenang-senang. Namun, bagi sebagaian yang lain, berwisata ke Surabaya lebih mirip perjalanan pulang ke akar budaya. 

Itu lah yang dirasakan Rudi (bukan nama sebenarnya), mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Timur. Dia merasa layak untuk menjadikan Surabaya sebagai tempat pulang ke akar budaya.

"Dalam diri saya mengalir darah Surabaya, yang saya dapat dari ayah saya," kata dia, sembari menyebut nama salah satu kampung di Surabaya, tempat kelahiran sang ayah. Sang ayah lahir dan besar di Surabaya, sebelum karena alasan pekerjaan akhirnya hijrah ke kota lain.

"Kata ayah saya, walaupun saya tidak lahir di Surabaya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa saya adalah anak orang Surabaya. Sebagai anak orang Surabaya, kata ayah, saya juga mewarisi semangat Arek, yang jadi akar budaya saya ," paparnya menjelaskan alasan menempatkan Surabaya sebagai akar budaya.

Semangat kembali ke akar budaya mendorong Rudi untuk menguatkan ikatan batin dengan Surabaya. Cara menguatkan ikatan, yang sejauh ini dia lakukan adalah mengunjungi destinasi wisata, baik wisata religi, sejarah, kuliner, budaya, alam, maupun belanja. Sebagian destinasi pernah dan sebagian yang lain segera dia kunjungi.

Yang terbaru, pada penghujung 2023 lalu, Rudi menghabiskan waktu di Alun-Alun Bawah Tanah Surabaya.

"Saya baru tahu, ada alun-alun di bawah tanah. Exited. Lukisan yang dipajang juga wow," kata Rudi, yang saat berkunjung ke Alun-Alun Bawah Tanah didampingi kerabatnya, yang tinggal di kawasan Surabaya Barat.

Berlokasi di Jalan Gubernur Suryo No. 15 Surabaya, luas Alun-Alun Bawah Tanah mencapai 1,46 hektare. Area destinasi wisata yang diresmikan pada 17 Agustus 2020 ini membentang dari Balai Pemuda, area bawah tanah Jalan Yos Sudarso, dan lahan di sekitar Persil Pemuda 17.

Seperti pengunjung lain, di destinasi wisatan ini, Rudi bisa menikmati pameran berbagai karya seni. Lewat pameran di basement Alun-Alun tersebut pengunjung dapat merasakan nuansa seni lokal yang lahir dari tangan berbakat seniman Surabaya.

Masih di kawasan Alun-Alun, wisatawan juga bisa menikmati sensasi wisata sejarah. Di sini, berdiri gedung bersejarah Balai Pemuda. Didirikan pada 1907 bangunan ini dulu dikenal sebagai Simpangsche Societeit. Pada zaman kolonial, gedung ini menjadi tempat hiburan kalangan atas Eropa, khususnya warga Belanda. Arsitektur kolonial sangat kental di seluruh permukaan dan sudut gedung.

Kembali ke Rudi, menurutnya, menghabiskan waktu di Alun-Alun Bawah Tanah memberinya pencerahan budaya dan sejarah. Pencerahan budaya, dia dapatkan dari goresan lukisan dan karya lain, yang dipamerkan di basement Alun-Alun. Sedangkan pencerahan sejarah, datang dari kisah bangunan kolonial Balai Pemuda.

Dua pencerahan tersebut, kata dia, memudahkan perjalanannya kembali ke.jati diri sebagai orang yang di dalam tubuhnya mengalir darah Surabaya. Jati diri Surabaya yang dia ketahui diantaranya menjunjung tinggi sejarah dan budaya.

"Nah sebenarnya ada satu pencerahan lagi yang mewarnai perjalanan pulang saya, yakni religi," ujar dia.

Terkait hal itu, Rudi bersyukur karena telah mengunjungi destinasi wisata Masjid dan Kawasan Sunan Ampel. Bahkan, kata dia, sejak kecil, remaja, dan kini dewasa, sangat familiar dengan masjid dan kawasan wisata religi, yang beralamat di Petukangan I, Ampel, Kecamatan. Semampir, Kota Surabaya tersebut.

Sejatinya, bukan hanya Rudi atau wisatawan dalam negeri lainnya yang menjadikan Masjid Sunan Ampel sebagai tujuan wisata religi. Wisatawan luar negeri pun terkesima dengan destinasi wisata ini.

Mengutip laman bappedalitbang Surabaya, wisatawan manca negara itu, diantaranya datang dari
China, Prancis, Belanda, Italia, Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Brunei Darussalam, Filipina, Jerman, Yunani, Selandia Baru, Korea, dan Jepang. Umumnya mereka melihat bentuk bangunan masjid Ampel yang dibangun sejak 1421, kemudian berziarah ke makam Sunan Ampel.

Seperti diketahui, Sunan Ampel  adalah anggota dewan Wali Songo tertua, yang berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan Nusantara.

Keberadaan destinasi wisata religi Sunan Ampel, dalam pandangan Rudi, mencerminkan kuatmya nilai-nilai religius masyarakat Surabaya. Nilai-nilai itu juga, yang ingin dia raih dalam perjalanan pulangnya menuju akar budaya Surabaya. Akar yang membuatnya bangga sebagai orang, yang di dalam tubuhnya mengalir darah Surabaya.

Terpopuler

Selengkapnya >>

FOLLOW US