Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo. (Foto/Dok.Beritajatim.com)
Jawa Timur - Kasus dugaan penganiayaan santri di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) hingga menyebabkan kematian, terus didalami oleh Satreskrim Polres Ponorogo.
Petugas kepolisian kembali melakukan pemeriksaan sebanyak 2 orang. Sehingga kini total saksi yang diperiksa oleh Satreskrim Polres Ponorogo menjadi 9 orang. Dengan rincian 2 santri, 4 dokter dan 3 ustaz atau staf pengajar di Pondok Gontor.
“Tadi malam ada 2 dokter lagi yang kita periksa. Sehingga untuk saksi dokter, ada 4 orang yang sudah kita periksa,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo, Selasa (6/9)
Catur menyebut jumlah saksi yang akan diperiksa itu, besar kemungkinan akan bertambah lagi. Karena rangkaian kasus dugaan penganiayaan itu, tidak hanya di satu titik saja. Namun, juga ada beberapa titik yang akan diperiksa dan tentu akan ada saksinya.
“Semua dokter yang diperiksa ini, ya para dokter yang bertugas di rumah sakit yang ada di Pondok Gontor,” katanya. dilansir beritajatim
Progres terkini dalam penyelidikan ini, kata Catur pihaknya secepatnya akan melakukan olah TKP. Hal itu penting dilakukan untuk menaikkan ke tahap selanjutnya.
Meski rentan kejadian, hingga kasus ini mencuat sudah beberapa hari, Catur yakin tidak ada TKP atau barang bukti yang dikaburkan. Sebab, pihak pondok sendiri sangat kooperatif dan terbuka atas kasus dugaan penganiayaan ini.
Polres Ponorogo saat ini juga menjalin komunikasi dengan orangtua korban yang ada di Palembang Sumatera Selatan.
“Kita juga melakukan komunikasi dengan ortu korban. Kita lagi menunggu untuk jawaban otopsi,” katanya.
Mencuatnya kasus dugaan penganiayaan santri hingga meninggal di Pondok Gontor ini berawal dari postingan video pengacara Hotman Paris di akun instagramnya pada hari Minggu (4/9) siang.
Postingan video pengacara spesialis perkara kepailitan itu, tentang aduan seorang ibu di Kota Palembang. Dengan menangis tersedu-sedu, ibu yang bernama Soimah itu mengungkapkan ke Hotman, bahwa ada dugaan kejanggalan dalam kematian anaknya yang sedang menjadi santri di salah satu pondok di Gontor Ponorogo.
Anak pertama ibu Soimah yang bernama Albar Mahdi itu diduga meninggal karena tindakan penganiayaan atau kekerasan. Jenazah anak yang berumur 17 tahun pada bulan Desember nanti itu, meninggal di pondok pada tanggal 22 Agustus 2022.
Selang sehari, tepatnya tanggal 23 Agustus, jenazah Albar tiba di rumah duka di Palembang. Melihat kondisi jenazah yang kain kafannya masih ada darahnya, sang ibu menduga kematian Albar itu tidak wajar.