aption Proses pembelajaran tatap muka 100 persen diterapkan di Malang (Foto: MPI/Avirista Midaada).
Jawa Timur - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang kembali menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Kebijakan ini dibuat karena kasus Covid-19 melandai.
Salah satu sekolah yang mulai menerapkan PTM 100 persen yakni SMPN 8 Kota Malang. Sekolah yang berada di Jalan Arjuno Kota Malang ini mulai PTM 100 persen, Senin (14/3) dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan (prokes) ketat.
Memasuki area sekolah seperti biasa siswa tetap diwajibkan melaksanakan standar protokol kesehatan mulai mencuci tangan dan pengecekan suhu tubuh.
Memasuki area sekolah pun masker menjadi barang wajib yang dipakai, baik siswa, guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Kepala SMPN 8 Kota Malang Anny Yulistyowati menyatakan, mayoritas dari 758 siswa menganggap penerapan PTM 100 persen dianggap murid dan guru lebih mudah dibanding sekolah daring atau online.
Mengingat apapun permasalahan dalam pembelajaran bisa langsung ditanyakan ke guru.
Namun diakuinya, ada prosedur khusus sebelum membuka kembali PTM di sekolahnya, yakni seluruh ruangan yang digunakan telah dilakukan sterilisasi dengan menggunakan cairan disinfektan.
"Satgasnya, setiap pulang bisa semprot kemudian kalau yang dalam skala besar itu Jumat sore ketika anak-anak sudah pulang semua. Petugas kami yang istilahnya menyemprot ya yang pakai pompa besar," ucap Anny kepada awak media pada Senin (14/3).
Sementara di ruang kelas masing-masing sarana prasarana (sarpras) baik wastafel cuci tangan hingga hand sanitizer telah disiapkan.
Sarana prasarana itu bisa digunakan para siswa maupun guru dan tenaga kependidikan.
Tak hanya itu, setiap kelas juga telah disediakan cadangan masker medis untuk pengganti bila dibutuhkan.
"Dengan harapan kalau da anak ga pakai masker atau maskernya langsung diganti, ya langsung ada bisa diganti," katanya.
Selama pemberlakuan PTM 100 persen jam pembelajaran pun diubah sebagaimana penerapan PTM 100 persen sebelumnya. Dimana para siswa masuk sekolah mulai pukul 07.15-11.30 WIB.
"Istirahatnya ada di tengah jam keempat, 10 menit digunakan untuk anak-anak barangkali makan. Kemudian ya rileks sebentar, itu masih dalam pengawasan guru. Anak setiap saat ada di pengawasan guru," tuturnya. dilansir iNews
Saat jam pulang pun, pihaknya melakukan pengaturan kepada para siswa. Dimana anak-anak yang pulang jalan kaki didahulukan, dimana kepulangannya diatur sesuai kelas masing-masing berurutan.
"Jadi misalnya sekarang kita mulai dari kelas 7, jalan kaki 7A 7B. 10 menit, 7C 7D sampai habis semua. Kemudian sampai kelas 8. Setelah selesai semua kelas 9 dengan asumsi 10 menit selesai anak-anak," katanya.
Selanjutnya barulah mereka yang dijemput orang tua yang dipulangkan oleh pihak sekolah. Dimana pihak sekolah harus memastikan penjemput sudah berada di depan sekolah, jika tidak maka siswa ini tidak diperbolehkan keluar area sekolah oleh guru.
"Kalau belum mereka nggak boleh keluar dari area sekolah dan pada saat itu guru masih ada di kelas, tidak meninggalkan kelas sampai anak-anak habis. Kalau misalnya tinggal satu dua orang, ya kita mintakan turun tapi kita tempatkan di tempat duduk yang di depan masjid dalam pengawasan kita," ujarnya.
Ia berharap sarana prasarana di sekolah yang menerapkan protokol kesehatan dan pengaturan waktu pulang sekolah tak memicu kerumunan yang berimbas pada adanya kasus Covid-19 di lingkungan sekolah kembali.