• Bisnis

Raup Potensi Transaksi Rp 140 Miliar, Keripik Buah Indonesia Diminati Pasar Amerika

Wahyoe Boediwardhana | Selasa, 15/02/2022 08:57 WIB
Raup Potensi Transaksi Rp 140 Miliar, Keripik Buah Indonesia Diminati Pasar Amerika Pengunjung pameran tengah meminta informasi seputar produk yang dipajang di gerai Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), saat mengikuti pameran Winter Fancy Food Show (WFFS) 2022 pada 6-8 Februari 2022 di Las Vegas, AS. Produk Keripik Buah asal Indonesia berhasil meraih potensi transaksi sebesar Rp 14 miliar. (Foto.Istimewa)

Las Vegas – Keripik buah, keripik singkong, berbagai macam sambal, serta bumbu jadi asal Indonesia, ternyata mampu menyita perhatian masyarakat Amerika. Ini setelah sembilan usaha kecil menengah (UKM) melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), mengikuti pameran Winter Fancy Food Show (WFFS) 2022 pada 6-8 Februari 2022 di Las Vegas, AS, dan mampu meraup potensi transaksi lebih dari Rp 150 miliar..

Pada pameran tersebut Indonesia menampilkan sembilan UKM yang dikoordinasiKementerian Perdagangan (Kemendag), antara lain Jans Enterprises Corp yang merupakan importir dan distributor mamin Indonesia. Jans Enterprises Corp menawarkan beragam produk mamin diantaranya keripik singkong, keripik ubi, air kelapa, dan biskuit untuk pasar AS.

Selain Jans ada pula, Jawa Import Inc & FoodEx menampilkan berbagai produk sambal, bumbu jadi, teh celup herbal, dan buah. Ada pula Atama Premier Foods yang menawarkan berbagai macam kue kering, keripik ubi, biskuit keju, dan kerupuk udang, yang desain kemasan dan rasanya telah disesuaikan dengan masyarakat AS.

“Penyelenggaraan pameran tahun ini terhitung memiliki skala yang lebih kecil dibanding gelaran sebelumnya. Namun, Indonesia mampu meraup potensi transaksi yang menggembirakan,’’ ucap Kepala Indonesian Trade Promotion Center Los Angeles (ITPC) Bayu Nugroho, kepada wartawan, Selasa (15/2/2022).

WFFS merupakan pameran tahunan yang diadakan Asosiasi Specialty Food Associaton. Pameran ini menampilkan produk mamin yang mengedepankan orisinalitas asal etnis atau budaya, mempunyai proses pengolahan unik dengan bahan dasar spesifik, mempunyai pengemasan yang menarik, serta memiliki saluran distribusi dan penjualan yang spesifik. Pada gelaran tahun ini, WFFS diikuti 876 peserta dari berbagai negara di antaranya Indonesia, Amerika Serikat, Italia, Jepang, Prancis, Spanyol, dan Brasil.

Pada pameran di Las Vegas ini, ITPC Los Angeles berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) ikut pula mempromosikan produk UKM Indonesia lain melalui bendera Narata, Rumah Mocaf Indonesia, dan Tyu.

Narata merupakan UKM binaan Bank Indonesia yang membawa produk keripik buah-buahan seperti pisang, nangka, dan salak. Sedangkan Rumah Mocaf Indonesia adalah UKM yang menjual produk-produk dari bahanbaku singkong. Mocaf atau Modified Cassava Flour, merupakan olahan tepung singkong dengan fermentasi mikroba atau enzimatis. Rumah Mocaf Indonesia membawa produk tepung tapioka serta kue kering rasa cokelat dan buah-buahan.

Sementara Tyu menampilkan berbagai macam keripik buah, diantaranya keripik mangga, nanas, dan buah naga. Tyu mendapatkan potensi transaksi terbesar pada pameran ini dengan nilai melebihi Rp140  miliar rupiah.

Selain makanan dan bumbu jadi, pemerintah Indonesia juga membawa serta produk-produk minuman, seperti produk teh dengan berbagai varian melati, hitam, jeruk purut, hijau, hijau melati, dan teh jeruk lemon. Termasukmengenalkan jamu sebagai minuman herbal Indonesia.

Pemerintah Sulawesi Utara (Sulut) yang ikut berpartisipasi mengenalkan perusahaan yang berpusat di Bitung, Sulawesi Utara, yang memiliki produk utama berupa berbahan alami nira kelapa, seperti gula kelapa, nektar kelapa, dan madu kelapa. Produk tersebut telah siap untuk dipasarkan di pasar AS karena telah memiliki sertifikat United States Department of Agriculture (USDA) Organic.

Pasar AS menurut Bayu sangat responsif terhadap produk makanan ringan yang menyehatkan. Dengan berpartisipasi di WFFS secara konsisten, Indonesia diharapkan dapat membangun kepercayaan dan reputasi sebagai pemasok produk-produk unik, inovatif, dan berpotensi tinggi di mata buyer AS.

“Respons pembeli AS yang sangat besar terhadap produk mamin Indonesia. Ini menunjukan Indonesia memiliki daya saing serta pasar karena kualitas serta selera yang sesuai pasar AS. Kami meyakini buyer AS tengah mencari pemasok baru yang bisa menyuplai dalam dengan jumlah yang besar, khususnya untuk produk mamin yang menyehatkan,” pungkas Bayu.

Pada 2021, ekspor makanan olahan Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 23,19 juta, naik 57,20 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 14,75 juta. Untuk produk minuman, pada 2021 ekspor Indonesia ke AS tercatat sebesar USD 1,35 juta, naik 36,1 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat USD 986,21 ribu.

Terpopuler

Selengkapnya >>

FOLLOW US