Beberapa petugas di RS dr Soetomo Surabaya tengah menyiapkan sarana untuk pelaksanaan uji klinis fase satu Vaksin Merah Putih (VMP). Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan sertifikat halal untuk vaksin produksi dalam negeri ini, sehingga VMP memungkinkan untuk digunakan oleh warga muslim di seluruh dunia. (Foto.Wahyoe Boediwardhana)
Jawa Timur – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berhasil mengantongi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas produk vaksin yang mereka teliti. Vaksin Merah Putih (VMP) yang dikembangkan Universitas Airlangga Surabaya bersama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia (BPI) ini, digadang-gadang dapat digunakan untuk warga muslim di seluruh dunia.
Sertifikat halal ini menurut Rektor Unair Surabaya M. Nasich sangat penting, karena masih ada kelompok masyarakat yang belum divaksin lantaran tidak adanya jaminan halal pada produk yang digunakan.
“Sudah kami dapatkan sertifikat halalnya. Mulai tanggal 7 Februari 2022 sampai dengan tanggal 6 Februari 2026, atau berlaku hingga lima tahun ke depan,” terang M. Nasich, di sela menghadiri launching uji klinis VMP fase pertama yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, di Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, Rabu.
Menurut Rektor Unair Surabaya, pengembangan VMP yang dilakukan pihaknya itu hanya tinggal beberapa langkah saja, namun itu diakui sangat terjal.
“Kami mohon support kontribusi tim dari Unair, khususnya yang berkaitan dengan vaksin merah putih,” ujar Rektor Unair.
Di tempat sama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy dalam sambutannya mengatakan, karena VMP ini telah mengantongi label halal dari MUI yang berlaku hingga lima tahun ke depan, maka vaksin ini memungkinkan dipakai sebagai produk donasi pemerintah Indonesia.
“Ini memang masih memerlukan langkah panjang. Tapi, bahwa kalau ini nanti menjadi produk vaksin yang diakui dunia, maka ini bisa menjadi donasi dari pemerintah Indonesia. Anggarannya sudah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan,” tukas Muhadjir Effendy.
Menurut Muhadjir, saat ini masih bayak negara-negara muslim seperti di Afrika yang terkendala dengan kehalalannya vaksin Covid-19. Dengan sertifikat halal yang dimiliki VMP ini, diharapkan menjadi jalan keluar sehingga Indonesia bisa berkontribusi bagi dunia internasional.
“Dengan situasi ini saya minta para pihak untuk jangan lagi gamang. Harus bekerja lebih keras lagi,” ujar Muhadjir.
Sementara itu Menteri Kesehatan yang mengikuti prosesi launching uji klinis secara daring mengungkapkan, Presiden telah menyetujui jika VMP ini digunakan sebagai vaksin donasi untuk negara-negara lain yang membutuhkan.
“Presiden sudah setuju menjadi vaksin ekspor. Untuk Afrika misalnya. Segera lakukan proses registrasi di WHO. Segera lakukan proses kajian dan research internasionalnya segera dipublikasikan,” kata Budi Gunadi Sadikin.
Fase uji klinis pertama ini ditandai dengan pemberian vaksin kepada 90 orang yang bersedia menjadi relawan uji klinis. Selanjutnya setelah lolos dan dinyatakan tidak ada masalah, fase uji klinis dilanjutkan tahap dua, dengan melibatkan sekitar 500 relawan.
Uji klinis terakhir atau fase tiga akan melibatkan sebanyak 5.000 relawan. Dan jika fase ketiga ini dinyatakan lolos, maka VMP akan siap untuk diproduksi massal dan diberikan kepada masyarakat luas.
Rencananya, selain diplot untuk memenuhi kebutuhan vaksin booster, VMP juga digadang-gadang untuk memenuhi kebutuhan vaksin anak usia 3-6 tahun. Dan jika sudah mendapat ijin dari WHO, maka VMP juga bisa diekspor ke negara lain di dunia.