
Rujak Uleg kuliner asli Surabaya
SITUSJATIM - Bagi masyarakat Surabaya, rujak uleg bukan sekadar menu hidangan penggugah selera. Lebih dari itu, kuliner tradisional ini menjadi simbol toleransi, yang telah mengakar dalam keseharian masyarakat.
Keberadaan rujak uleg sebagai simbol toleransi itu diamini oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Bahkan, menurutnya, toleransi itu lah yang menguatkan persatuan masyarakat Surabaya, di tengah beragam perbedaan.
"Rujak uleg ini beragam komposisinya, ada buah, cingur, petis, sayur, tahu, kemudian tempe yang disatukan. Sama seperti Surabaya semuanya jadi satu melalui toleransi," kata Eri di sela "Festival Rujak Uleg" di Taman Surya, Balai Kota Surabaya, Minggu (19/5/2024).
Seluruh bahan tersebut harus berpacu satu guna menciptakan sensasi rasa, yang luar biasa. Rujak uleg akan kehilangan kenikmatannya, bahkan hambar, jika satu atau dua bahannya tiada. Pun demikian, kata Eri, jika toleransi rusak, maka akan memicu ketidakstabilan kondisi sosial di Kota Surabaya.
Atas dasar itu lah, Eri mengajak masyarakat untuk memaknai filosofi di balik kuliner, yang sarat rasa pedas tersebut.
"Surabaya itu terdiri dari semua agama, suku, dan lapisan masyarakat, Surabaya ini penuh toleransi," kata Eri.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Laila Mufidah menekankan pentingnya pengenalan rujak uleg kepada generasi muda.
"Acara yang digelar setiap tahun ini bisa memberikan pengetahuan kepada mereka," kata Laila menanggapi event tahunan Festival Rujak Uleg,, yang tahun ini mengangkat tema History of Rujak Uleg.
Festival ini, menurut Laila, adalah bagian dari proses edukasi untuk menumbuhkan pemahaman anak muda tentang kuliner asli Surabaya.
"Jangan sampai makanan khas Kota Surabaya hilang. Kalau semakin banyak yang terjun ke festival ini maka kuliner rujak uleg terjaga," kata Laila.
Berdasarkan data dari Pemkot Surabaya, peserta "Festival Rujak Uleg" mencapai 564 orang yang berasal dari komunitas, perwakilan hotel, hingga mahasiswa asing.
Jumlah rujak uleg yang dibagikan kepada masyarakat sebanyak 731 porsi, sesuai dengan usia Kota Surabaya pada 31 Mei 2024.
TAGS : rujak uleg sebagai simbol toleransi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi