Ternyata, Ini Pemicu Gempa di Tuban dengan Rekor 41 Gempa Susulan

Wahyoe Boediwardhana | Jum'at, 22/03/2024 20:42 WIB

Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyatakan gempa Tuban dipicu oleh salah satu dari 295 sesar aktif di Indonesia  Salah satu sesar dari 295 sesar aktif yang tersebar di seluruh Indonesia, dinyatakan sebagai pemicu gempa di Tuban yang diikuti 41 gempa susulan berikutnya. Gempa bermagnitudo 6.7 itu dirasakan di sebagian besar masyarakat di kota dan kabupaten di Jawa Timur maupun Jawa Tengah. (Foto. BMKG)

 

SITUSJATIM - Gempa bermagnitudo 6,5 (data terakhir, red) telah mengguncang kawasan pesisir utara Jawa Timur, pada Jum’at (22/3) siang hingga sore tadi. Getaran yang berpusat pada 132 kilometer Timur Laut Kabupaten Tuban ini dirasakan hingga Surabaya, Malang, Semarang dan beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya. Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi?

Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo menjelaskan, bahwa guncangan yang terjadi pada daerah laut itu dipicu oleh sesar aktif di Laut Jawa.

Gempa dengan kedalaman 10 kilometer ini pun membuat jangkauan daerah guncangan semakin meluas hingga daratan Pulau Jawa. Gempa dengan kedalaman dangkal yang disebabkan oleh sesar aktif ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi.

Baca juga :

“Adanya pergeseran dan tekanan dari dua permukaan pada Laut Jawa ini menimbulkan getaran dengan skala Modified Mercally Intensity (MMI) III-IV. Intensitas tersebut dapat mengakibatkan guncangan dan retakan pada daerah permukaan. Semakin kuat skala intensitasnya, dampak yang dirasakan juga akan semakin berbahaya,” kata Amin Widodo dalam keterangan tertulisnya.

Amin menjelaskan, pergeseran permukaan pada gempa Tuban terjadi secara horizontal, sehingga tidak berpotensi tsunami. Namun demikian, gempa ini akan menghasilkan beberapa gempa susulan dengan skala magnitudo yang lebih rendah dari gempa pertama. “Untuk mitigasinya, gempa tersebut perlu dimonitoring guna mengetahui apakah ada tekanan yang masih aktif atau tidak,” tutur dosen Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut.

Pakar Geologi ITS ini pun mengungkapkan, bahwa pada tahun 2017 Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) telah merilis sebanyak 295 sesar aktif di Indonesia yang berpotensi menyebabkan gempa. Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah daerah yang berdekatan dengan sesar-sesar aktif tersebut harus melakukan mitigasi pemeriksaan, seperti pengecekan kondisi bangunan, permukaan tanah, dan sejenisnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, sepanjang hari Jum’at telah terjadi 41 kali gempa susulan dengan beragam magnitudo.

Sejumlah bangunan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik dikabarkan roboh akibat gempa. Terdapat dua rumah dan satu buah masjid yang rusak hingga roboh terkena goncangan. Sementara itu ratusan pasien di Rumah Sakit Unair, Rumah Sakit Khusus Infeksi, dan Rumah Sakit Husada Utama di Surabaya, terpaksa harus diungsikan keluar gedung lantaran khawatir terjadi sesuatu saat gempa terjadi.

Regina Gandi, 17, salah satu pasien yang dirawat inap di RS Unair mengaku langsung dibawa keluar gedung oleh petugas melalui jalur evakuasi lantai 7 rumah sakit, dan dikumpulkan di halaman depan bersama pasien yang lain.

Sementara itu di mall pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza Surabaya, mayoritas tenant memilih menutup toko mereka usai merasakan beberapa kali guncangan gempa di Tuban.

TAGS : Gempa ITS Geologi Tuban Sesar BMKG