Permintaan Kain Tenun Ikat di Mojokerto Meningkat, Pengrajin Sampai Kewalahan Terima Pesanan

Wahyoe Boediwardhana | Jum'at, 06/05/2022 10:13 WIB

Para pengerajin tenun ikat di Industri Kecil Menengah (IKM) RH Lestari di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto ini mengalami peningkatan hingga 20 persen dari biasanya. IKM RH Lestari di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Jawa TimurDatangnya bulan Ramadan lalu membawa berkah bagi pengerajin kain tenun ikat di Mojokerto.

Para pengerajin tenun ikat di Industri Kecil Menengah (IKM) RH Lestari di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto ini mengalami peningkatan hingga 20 persen dari biasanya.

Industri rumahan itu riuh dengan suara alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu atau kerap disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Mereka merangkai satu persatu benang menjadi kain tenun ikat yang indah untuk memenuhi pesanan yang mengalami peningkatan pasca penurunan akibat dampak Covid-19.

Baca juga :

Pemilik IKM Tenun Ikat RH Lestari, Budi Iswanto mengatakan, dalam momen Ramadan 2022, permintaan kain tenun meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Ia yang dibantu dua pegawainya pun harus ekstra keras agar dapat memenuhi tingginya permintaan pasar. Karena bulan Ramadan 2022, pesanan kain tenun mulai membaik dan bangkit.

Selain Mojokerto, pesanan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik.

Hasil karyanya juga dilirik oleh kalangan penjabat, baik pemerintah daerah maupun provinsi.

Pria berusia 36 tahun ini mengaku, untuk mempertahankan usaha yang telah ia rintis sejak tahun 2013 lalu bukanlah perkara mudah.

“Jumlah permintaan yang banyak belum bisa diimbangi dengan jumlah tenaga kerja. Permintaanya banyak, tenaganya sedikit. Kadang kita tidak mampu menyelesaikan jika temponya singkat. Nah, kita difasilitasi oleh Disperindag membuat pelatihan untuk warga. Tentu harapan saya ini sebuah lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” katanya. dilansir Beritajatim

Sehingga kadang ia mengaku kuwalahan menerima jumlah pesanan dengan tempo singkat. Menurutnya, untuk saat ini peminat menjadi perajin tenun sangatlah minim.

Oleh karena itu, pihaknya bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperidag) Kabupaten Mojokerto membuat pelatihan menenun untuk merekrut pekerja.

“Dalam sehari, satu perajin mampu menghasilkan satu potong kain tenun ikat berukuran 2,5 sentimeter. Untuk harga kain tenun ikat, mulai dari Rp200 sampai Rp500 ribu. Kita tidak pernah jual ke toko, hanya melayani pesanan saja. Ramadan tahun ini memang permintaan meningkat,” jelasnya.

TAGS : Jawa Timur Mojokerto Kain Tenun Pengrajin Kewalahan