Langkah Antisipasi Banjir di Pamekasan Hanya Sebatas `Wacana`

Asrul | Senin, 07/03/2022 09:09 WIB

Normalisasi dan reboisasi aliran sungai di kabupaten Pamekasan, guna mengantisipasi bencana banjir yang sempat direncanakan pada saat terjadi bencana banjir tahun sebelumnya. Ternyata hanya sebatas wacana belaka. Sejumlah personil dari BPBD Pamekasan dan PMI Pamekasan, meninjau status luapan air aliran sungai di Jl Raya Trunojoyo, Petemon, Selasa (1/3/2022). [Gambar: PMI Pamekasan]

Jawa TimurNormalisasi dan reboisasi aliran sungai di kabupaten Pamekasan, guna mengantisipasi bencana banjir yang sempat direncanakan pada saat terjadi bencana banjir tahun sebelumnya. Ternyata hanya sebatas wacana belaka.

Sebab rencana tersebut justru tidak terealisasi dan mengakibatkan bencana banjir parah kembali mengepung sedikitnya 20 desa/kelurahan di 4 (empat) kecamatan berbeda di Kabupaten Pamekasan, Selasa (1/3) lalu.

Bahkan status banjir tahun ini lebih besar dibanding peristiwa serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Padahal pada awal Januari 2021 silam, juga sudah disepakati sekaligus dijadikan sebagai rekomendasi hasil rembug Pemkab Pamekasan bersama sejumlah stakeholders dan masyarakat menyikapi bencana banjir.

Baca juga :

Di antaranya berupa rekomendasi normalisasi aliran sungai dan reboisasi hutan.

Rencana serupa juga sempat disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat meninjau beberapa titik banjir di Pamekasan, Sabtu (19/12/2020) silam.

Bahkan pada saat itu, ia juga berencana untuk segera mengambil langkah mitigasi dan evaluasi secara komprehensif.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif guna mengatasi banjir akibat luapan kali jombang dan kali semajit di Pamekasan.

“Kita harus segera melakukan proses mitigasi, sekaligus evaluasi secara komprehensif. Sebab persoalan banjir ini di antaranya akibat tingginya sedimentasi dan kondisi pintu air di beberapa aliran sungai tidak normal,” kata Khofifah Indar Parawansa, kala itu.

"Ada beberapa titik yang harus kita lihat kembali, ada sedimentasi cukup tebal dan harus dilakukan pengerukan. Termasuk beberapa pintu air yang harus segera diperbaiki,” sambung Bunda Khofifah saat meninjau titik banjir Pamekasan, Desember 2020 lalu.

Hanya saja, rencana tersebut hanya sebatas wacana dan pada akhirnya kabupaten Pamekasan, kembali dikepung banjir cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekalipun pada peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa.

Bahkan Bupati Pamekasan, Badrut Tamam menyampaikan banjir yang terjadi di daerah yang dipimpinnya karena banyak faktor.

Mulai dari pendangkalan sungai, penebangan pohon, buang sampah sembarangan, serta beberapa faktor lainnya. Sehingga diharapkan agar semua pihak tidak saling menyalahkan.

Selain itu, bencana banjir di Pamekasan juga harus segera diatasi, salah satunya dengan melakukan langkah strategis berupa pengerukan di beberapa titik aliran sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan.

“Insya Allah bulan ini dilakukan pengerukan sungai, kemarin kita sudah koordinasi dengan pemerintah provinsi,” kata Bupati Badrut Tamam, Jumat (4/3) lalu. dilansir Beritajatim

Berdasar Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, total terdapat sebanyak 16.986 jiwa di 20 desa/kelurahan berbeda di kabupaten Pamekasan, tecatat sebagai warga terdampak banjir yang melanda wilayah setempat.

Jumlah tersebut tersebar di 4 (empat) kecamatan berbeda di Pamekasan. Meliputi Kecamatan Pademawu, Palengaan, Pamekasan (Kota), dan Proppo.

Titik banjir di Kecamatan Pademawu, tersebar di 6 (enam) desa berbeda. Meliputi Desa Barurambat Timur, Lemper, Majungan, Pademawu Barat, Pademawu Timur, serta Desa Sumedangan.

Untuk Kecamatan Palengaan tersebar di 2 (dua) desa berbeda, yakni Palengaan Dhaja dan Rombuh. Sedangkan kecamatan Pamekasan, tersebar di 10 desa/kelurahan.

Meliputi 4 (empat) desa berbeda, yakni Desa Bettet, Jalmak, Kangenan dan Laden. Serta 6 (enam) kelurahan berbeda, yakni Kelurahan Barurambat Kota, Bugih, Gladak Anyar, Jungcancang, Perteker, dan Patemon.

Titik banjir di Kecamatan Proppo, tersebar di 2 (dua) titik berbeda, meliputi Desa Kodik dan Desa Samiran. Sementara ntuk warga yang dievakuasi akibat bencana banjir tersebut, terdata sebanyak 450 orang

TAGS : Jawa Timur Pamekasan Normalisasi Reboisasi Aliran Sungai Banjir